Rabu, 21 Januari 2015

Sunan Giri

SUNAN GIRI


   Di Gresik ada seorang pengajar agama yang terkenal, namanya Raden Paku, disebut juga sebagai Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih. Beliau adalah putera Maulana Ishak dari Blambangan (di Jawa Timur). Maulana Ishak dikatakan dari Blambangan, oleh karena itu ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama islam di daerah Blambangan yang pada masa itu masih kuat memeluk agama Hindu dan Budha. Berhubung ayahnya ke Pasai, dan tidak kembali lagi ke tanah Jawa, maka Raden Paku kemudian diambil sebagai putera angkat oleh salah seorang wanita kaya, Nyi Gede Maloka. Kalau dalam Babad Tanah Jawa disebut Nyai Ageng Tandes atau Nyai Ageng saja. Sesudah beliau besar disekolahkannya ke Ampel untuk berguru pada Raden Rahmat (Sunan AMpel). Di sana Raden Paku bertermu dengan Maulana Makhdum Ibrahim, putera-putera Sunan Ampel yang kemudian bergelar Sunan Bonang.
    Kemudian bersama-sama dengan Maulana Makhdum Ibrahim Raden Paku oleh Sunan Ampel di suruh pergi haji ke tanah suci, smbil memperdalam ilmunya. Tetapi mereka sebelum sampai di tanah suci singgah terlebih dahulu di Pasai (Aceh), untuk menunutut ilmu kepada para ulama di sana.
    Adapun yang dimaksud ilmu disini ialah ilmu ketuhanan menurur ajaran tasawuf. Konon kabarnya memang banyak ulama-ulama keturunan India dan Persia yang membuka pengajian di Pasei di waktu itu. Bahkan banyak pula ulama-ulama dari Malaka juga kadang datan bertanya tentang sesuatu masalah ke Pasai. Sesudah kedua tunas muda itu selesaimenuntut pelajaran di sana, merekapun kembalilah ke tanah jawa. Raden Paku berhasil mendapat “ilmu laduni”, sehingga gurunya di Pasai memberikan nama “Ainul Yaqin”.
    Raden Paku sekembalinya di tanah jawa mengajarkan agama islam menurut bakatnya. Raden Paku atau Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul yang boleh disebut pondok pesantrennya ialah di Giri, dimana murid-muridnya terdiri dari orang-orang kecil (rakyat jelata).
    Sungguh amat besar jasa Sunan Giri semasa hidupnya, karena beliaulah yang mengirimkan utusan ke luar jawa. Mereka terdiri dari pelajar, saudagar, nelayan. Mereka dikirim oleh Sunan Giri ke Pulau Madura, juga ke Bawean dan Kangean, bahkan sampai ke Ternate dan Haruku di Kepulauan Maluku. Amat besar pengaruh Sunan Giri terhadap jalannya Roda pemerintahan dikerajaan islam Demak. Sehingga suatu soal yang penting senantiasa menantikan sikap dan keputusan yang diambil Oleh Sunan Giri. Oleh para Wali Lainnya, Beliau dihormati serta disegani.
    Pada waktu dahulu Sunan Giri menjadi sumber keagamaan, dan termasyhur di seluruh Tanah Jawa dan sekelilingnya. Dari segala penjuru, baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah banyak yang pergi ke Giri untuk berguru pada Sunan Giri. Beliaulah kabarnya yang menciptakan gending Asmaradana dan Pucung. Daerah penyiarannya sampai ke Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Madura. Beliau mendidik anak-anak dengan jalan membuat bermacam-macam permainan yang berjiwa agama. Seperti misalnya: Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit, Jor, Gula Ganti, Cublak-Cublak Suweng, Ilir-ilir dan sebagainya.
    Diantara permainan kanak-kanak hasil ciptaannya adalah “Jitungan atau Jelungan”. Adapun caranya adalah:
    Anak-anak banyak, satu diantaranya menjadi “pemburu”, yang lain menjadi “buruan” mereka ini akan selamat atau bebas dari terkaman pemburunya apabila telah berpegangan pada Jitungan yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu.
    Permainan ini dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup, yaitu: bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan Ketuhanan Yng Maha Esa, maka manusia (buruan)itu akan selamat dari terkman iblis )pemburunya). Disamping itu diajarkan pula nyanyian-nyanyian untuk anak-anak yang bersifat pedagogis serta berjiwa agama. Diantaranya ialah “Tembang Dolanan Bocah” yang berbunyi sebagai berikut:
    “Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nundung begog hangataikar”. Artinya kira-kira:
    “Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain di halaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit”.
    Adapun maksud dari tembang tersebut adalah: agama islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera orang menunutut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama islam (pandang gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir.
    Disamping itu terkenal pula tembang buat kanak-kana yang bernama “Ilir-ilir” yang isinya mengandung filsafat serta berjiwa agama. Bunyi selengkapya ialah demikian:
“Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir. Sing ijo royo-royo, tak sengguh kemanten anyar. Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotira. Dodotiro-dodotiro kumitir bedah ing pinggir, dondomono jrumatono, kanggo sebo mengko sore. Mumpung jembar kalangane, ndak sorak hure”.
    Maksudnya ialah: sang bayi yang lahir di dalam dunia ini masih suci, bersih, murni, sehingga siapa saja ingin memandangnya. “Bocah angon” (pengembala) tu diumpamakan santri, mualim, artinya orang yang menjalankan syari’at agama. Sedangkan belimbing diibaratkan blimbing itu mempunyai lima belahan, maksudnya untuk menjalankan sembahyang lima waktu. Meskipun lunyu-lunyu (licin), tolong panjatkan juga, kendatipun sembahyang itu susah, namun kerjakanlah, nuat membasuh “dodotiro-dodotiro, kumitir bedah ing pinggir” maksutnya kendatipun salat itu susah, tetapi kerjakan guna membasuh hati dan jiwa kita yang kotor ini. “dondomono, jrumatono, kanggo sebo mengko sore, ndak surak sorak hore”. Maksudnya: bahwa orang hidup di dalam dunia ini senantiasa condong berbuat dosa, segan mengerjakan yang baik dan benar serta utama, sehingga dengan menjalankan salat itu diharapkan besuk dikelak kemudian dapat kita buat sebagai bekal kita dalam menghadap kehadirat tuhan yang maha kuasa, bekal itu ialah beramal saleh. Itulah diantara lain buah ciptaan sunan giri. Mengenai tembang (lagu) ilir-ilirini ada pula yang berpendapat bahwa itu adalah ciptaan sunan kalijogo. Akan tetapi mengingat bahwa diantara wali songo, sunan giri yang terkenal sebagai orang pendidik yang gemar menciptakan lagu-lagu kanan-kanak maka besar dugaan kita bahwa lagu tersebut adalah ciptaan beliau juga.jika tidak, yang pasti ialah bahwa tembang tersebut adalah ciptaan pada jaman wali.

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar