Jumat, 27 Februari 2015

Keutamaan Menjaga Lisan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa mengingatkan kepada para sahabatnya untuk senantiasa memperhatikan lidahnya, jangan sampai lidah tersebut digunakan untuk sesuatu hal yang akan menimbulkan kejelekan bagi dirinya, tatkala pada hari kiamat dia tidak bisa mempertanggung jawabkan semua ucapan yang keluar dari mulutnya. Maka lidah bisa memasukkan seseorang ke dalam surga akan tetapi dia juga bisa menjerumuskan pemiliknya jauh ke dalam neraka.

Tanda kesempurnaan Islam dan Iman seseorang salah satunya adalah dengan jalan menjaga lidah dari segala sesuatu ucapan yang tidak memberikan manfaat serta faedah. Karenanya barangsiapa yang bisa menjaga lidahnya maka sungguh dia telah mendapatkan keberuntungan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Kita juga perlu mengetahui akan beberapa hal yang berkaitan dengan kewajiban menjaga lisan. Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar dalam menjaga lisan ini adalah “Dan janganlah kamu bersikap pada apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra`: 36). Ada juga hadist yang menjadi dasar untuk kita menjaga bicara kita yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR.Bukhari hadits no. 6089 dan Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah).

Keutamaan menjaga Lidah diantaranya yaitu :
  1. "Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu." ( Abu Ad-Darda’)
  2. "Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan." ( Anas bin Malik ).
  3. "Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya." ( Sufyan Ats-Tsauri )
Hikmah Menjaga Lisan :
  1. Akan mendapatkan keutamaan daripada melaksanakan perintah Allah dan juga Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam . Dasar dari hal tersebut adalah sebuah hadist yang berbunyi :"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48).
  2. Akan mendapat jaminan surga yang datangnya dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadistnya yaitu yang artinya :"Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga)." (HR. Al-Bukhari no. 6088).
  3. Akan memiliki kedudukan tersendiri dalam agama Islam ini. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah yang terdapat dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab : "(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya." (HR. Al-Bukhari no. 11, Muslim no. 42).


    sumber : abufarras.blogspot.com
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf
SALAH satu ciri martabat keislaman seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan, dari sesuatu yang tidak memberinya manfaat.

Semakin seseorang larut dalam kesia-siaan, semakin tampak keburukan martabat keislamannya dan semakin dekatlah ia dengan keterpurukan. Hati pun akan keras membatu dan lalai dari kebenaran.

Dalam hadisnya Rasulullah saw dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia,"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berzikir kepada Allah; sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa zikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras." (HR. Tirmidzi).

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih dalam berbicara. Bahkan, tak sedikit pula orang yang belajar secara khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Lisan adalah karunia Allah yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri dengan sebenar-benarnya. Cara mensyukuri lisan ini adalah dengan menggunakannya untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri. Bukan pula dengan memuaskan nafsu dengan mengumbar omongan.

Seorang bijak berkata, "Ada enam sifat untuk mengetahui orang itu bodoh: marah tanpa sebab, membuka rahasia, suka mengganggu orang lain, memberi bukan pada tempatnya, tidak bisa membedakan lawan atau kawan, dan berbicara tanpa ada manfaatnya."

Mahasuci Allah yang telah memberikan kita lisan. Sungguh beruntung seseorang yang bisa menjaga lisannya dengan baik. Setiap pembicaraaan dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah dan berharga, menggugah dan berdaya ubah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kata-kata yang terucap dari mulut seseorang kadang-kadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhul ibaru, yang artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum (hati).

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tetapi mendatangkan kemudaratan. Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam." (HR. Bukhari, Muslim).

Luqman, seorang saleh yang namanya dijadikan surah dalam al-Quran, menasihati anaknya dengan ungkapan,"Jika berbicara itu adalah perak, maka diam adalah emas."

Lidah ini tak bertulang. Meski lentur namun memiliki efek yang luar biasa ketika digunakan. Sehingga begitu penting kita menjaga lisan. Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Karena jika tidak hati-hati dalam menggunakan lisan, timbullah bencana dan musibah. Dua orang yang tadinya berteman dengan penuh keakraban bisa jadi saling membenci hanya karena lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa berpisah karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa ribut dan bertengkar karena lisan. Bahkan, hal-hal yang lebih buruk dari itu, seperti pertengkaran dan perang saudara, bisa meletus hanya karena ucapan lisan yang tak dijaga.

Imam al-Syafii mengatakan, "Apabila seseorang ingin berbicara, hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya."

Karena itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita bersungguh-sungguh untuk senantiasa menjaga lisan berada dalam kebaikan. Berbicaralah yang penting, jangan yang penting berbicara. Tanamkanlah kesadaran bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid. Allah SWTberfirman, "Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."(QS. Qf [50]: 18).

Ada beberapa keutamaan yang akan kita raih karena menjaga lisan, yaitu:

1. Ciri iman kepada Allah dan hari akhir.

Bicara yang baik itu akan mendatangkan manfaat dan kemaslahatan, sedangkan bicara yang buruk itu hanyalah berbuah kesia-siaan. Maka, jauhkanlah lisan kita dari setiap perkataan yang sia-sia. Bacalah zikir di setiap waktu dan keadaan. Dan seperti disebutkan Rasulullah saw dalam hadisnya,"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam."(HR. Bukhari, Muslim).

Meninggalkan sesuatu yang sia-sia, termasuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, adalah tanda dari baiknya Islam seseorang. Lisannya terjaga hanya untuk kebaikan, ucapannya terpelihara hanya untuk kemaslahatan. Rasulullah saw bersabda, "Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan apa yang tidak memberinya manfaat."(HR. Tirmidzi).

Al-Hasan al-Bashri mengatakan,"Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dia dijadikan tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya."

2. Meraih kedudukan Islam paling utama.

Suatu hari Rasulullah saw ditanya, "Siapakah muslim yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain."(HR. Bukhari).

Seorang muslim yang baik adalah yang selalu menebar kebaikan, kasih sayang, dan cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Ia tidak melakukan teror, membuat orang lain terganggu, dan menimbulkan kerusuhan. Ia jaga perangainya agar tidak menyakiti orang lain, walau hanya dengan ucapan dan kata-katanya. Ia selalu berhati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat, sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang melukai dan mencederai hati dan fisik orang lain.

Al-Laits ibn Saad rahimahullahmenceritakan bahwa suatu ketika orang-orang melewati seorang ahli ibadah. Lalu mereka memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab seruan mereka. Kemudian mereka memanggilnya kembali, namun dia tetap tidak memenuhi panggilan mereka. Maka mereka pun berkata, "Mengapa kamu tidak mau berbicara dengan kami?" Lalu dia keluar menemui mereka dan berkata, "Aduhai orang-orang itu! Sesungguhnya lisanku adalah hewan buas. Aku khawatir jika aku melepaskannya dia akan memangsa diriku." [*] - See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2145055/keutamaan-menjaga-lisan-1#sthash.Y7uv4bTk.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar